Rabu, 01 Juli 2015 3 komentar

Anak Tiri Lebih Kejam Daripada Ibu Tiri

ini adalah sebuah kisah nyata, kisah yang saya alami sendiri tepatnya di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.saya adalah seorang anak dari 4 saudara kandung saya dan saya adalah anak bungsu atau anak terakhir. sebelumnya ayah saya pernah menikah sebelum menikah dengan ibu saya. dan mempunyai 9 anak yang yaitu sekarang adalah kaka yang tidak sekandung atau kaka tiri saya. sepeninggalnya istri pertama, beliau menikah dengan ibunda saya. ibunda saya adalah orang yang sangat ramah dengan siapapun terlebih dengan anaknya sendiri. dahulu selama masih hidupnya ayah saya semua masih dalam keadaan damai. namun sepeninggalnya ayah saya semua berubah. tidak seakur dulu bahkan sekarang mulai bermusuhan. jeasnya awal mula karena harta waris yang ditinggalkan oleh ayah saya. ayah saya meninggalkan sebuah rumah yang sempat saya huni dari kecil hingga sekarang. namun mereka mengakui bahwa itu bukan rumah kami, dan kami ( saya dan ibu saya ) tidak berhak tinggal di rumah tersebut. kata-kata kasar, sumpah serapah caci maki sering sekali mereka lontarkan kepada ibu saya. dan akhirnya pada hari itu sabtu 4 april 2015 semuanya berkumpul 5 kaka tiri saya dan 3 kaka kandung saya berembuk untuk menyelesaikan masalah waris tersebut. mereka ( saudara tiri saya ) bersikeras agar ibu saya meninggalkan rumah secepatnya. mereka sering kali menyerukan ibu saya agar menandatangani surat kosong. namun kami tetap tidak mau.segala urusan waris menjadi lebih rumit bagi kami karena pada tahun 2010 semua sertifikat kepewarisan mereka ambil paksa dari ibu saya. bahkan surat tanah yang di beli dari ibu saya dan ayah saya juga mereka ambil paksa. ibu saya adalah wanita yang lemah kalau di paksa. beliau tidak tahan dengan kekerasan. sayangnya saya belum terlalu dewasa waktu itu.hingga pada bulan september 2013 datang lahhh kaka tertua saya ikut tinggal di rumah karena terimpit ekonomi di daerah asal suaminya di kandangan. kaka tertua saya ( perempuan ) dari dulu memang suka membantah, bahkan bisa di bilang yang paling di benci olah orang tua saya. namun sekali lagi ibu saya adalah orang yang sangat lembut terhadap anak. hingga di bolehkan untuk tinggal bersama, selang sekitar 2 minggu mereka sudah mulai berkelahi dengan saya dan ibu saya. bahkan yang terparah mereka pernah sampai mendorong ibu saya ke bak air. tak jarang ibu saya menangis di buat oleh mereka. seberapa keraspun saya melawan hanya akan membuat situasi semakin buruk. padahal hidup mereka sudah di permudah, dengan biaya listrik, air dan bahkan dulu makan sempat kami tanggungkan. namun apa balasan mereka hanyalah menyakiti ibu yang bahkan ibu kandungnya juga sendiri. dari situlah tekanan ibu saya yang berasal dari dalam rumah.sedangkan dari luar rumah ada banyak kaka tiri saya yang menekan ibu saya. dan akhirnya sampai sekarang masalah keluarga ini tidak pernah beres dan berhujung kekerasan belaka. segala keserakahan dan hasrat ingin memiliki harta dunia sehingga membutakan mata mereka antara mana yang hak mereka dan mana yang bukan. hingga sekarang saya sangat ingin menggugat semuanya ke pengadilan. tapi sayangnya mereka jauh lebih kuat. mereka adalah orang-orang yang berpengaruh bahkan salah satunya adalah hakim pengadilan, saya adalah orang kecil dan bahkan sekarang masih belum mempunyai pekerjaan, namun hak saya yang sedkit dan mungkin bagi mereka tak seberapa itu juga mereka ambil dari saya. untunglah saya sekarang sudah sempat lulus kuliah d kampus lokal di kotabaru, meskipun biayanya compang camping dari hasil kerja sambilan saya tanpa bantuan sedikitpun dari kaka tiri saya yang terkenal dengan kekayaannya dan kesombongan mereka saya tetap bersyukur sudah dapat mengambil gelar s1 saya yang saya peroleh dengan kerja keras. namun sekarang saya masih belum mempunyai pekerjaan untuk menampung hidup saya di kota yang sekarang saya tempati. di sini bahkan saya masih belum memiliki teman. saya berharap salah satu pembaca tulisan pendek saya ini ada yang mau membantu kehidupan saya ini, yang mau membantu saya menegakkan keadilan yang sudah sangat sukar di dapat. dalam benak hati saya, saya sangat merindukan seorang ayah yang dlu bisa melindungi ibu dan saya...
 
;